Site icon PUJAKESUMA SUMSEL

PUJAKESUMA: IDENTITAS JAWA YANG MENJADI SUMATERA

Sebuah Pembacaan Ulang Antropologis tentang Diaspora, Batas Etnik dan Transformasi Kebudayaan

Pendahuluan

Pujakesuma secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Secara kelembagaan, Pujakesuma merupakan organisasi sosial-kemasyarakatan yang menghimpun masyarakat keturunan Jawa yang lahir, tinggal dan beraktivitas di Sumatera. Organisasi ini menempatkan kebudayaan, silaturahmi, pemberdayaan dan kontribusi sosial sebagai bagian dari orientasinya. Namun, di balik pengertian administratif tersebut terdapat persoalan antropologis yang jauh lebih menarik: Apa artinya menjadi Jawa ketika seseorang lahir, tumbuh dan membangun kehidupannya di Sumatera? Pertanyaan ini penting karena identitas etnik tidak pernah hanya berkaitan dengan asal-usul biologis. Identitas dibentuk melalui bahasa, ingatan, ritual, keluarga, interaksi sosial, pengalaman sejarah, serta pengakuan individu terhadap kelompoknya. Dalam konteks Pujakesuma hari ini, persoalan tersebut menjadi semakin rumit. Leluhur mereka mungkin berasal dari Jawa, tetapi sebagian generasi berikutnya lahir dan tumbuh di Sumatera. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu, Batak, Minangkabau, Palembang, Lampung dan berbagai kelompok etnik lainnya. Dengan demikian, Pujakesuma bukan hanya cerita tentang perpindahan orang Jawa dari Jawa ke Sumatera. Ia merupakan cerita tentang perubahan makna dari orang Jawa menjadi orang Sumatera baru.

Migrasi dan Lahirnya Identitas Baru

Sejarah Pujakesuma tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang migrasi masyarakat Jawa ke Sumatera. Fenomena tersebut jauh melampaui Transmigrasi di era Kolonial maupun masa Orde Baru. Kehadiran masyarakat Jawa di Sumatera juga memiliki akar historis yang sangat panjang, termasuk melalui perpindahan elite, jaringan politik, perdagangan, perkawinan dan hubungan antar-kerajaan. Termasuk sosok Balaputradewa, seorang penguasa yang memiliki keterkaitan erat dengan Wangsa Sailendra (Budha Mahayana 752 M) di Jawa. Kemudian tampil sebagai salah satu raja yang penting bagi Sriwijaya di Sumatra. Dinasti Sailendra sendiri berkembang kuat di Jawa sejak abad ke-8 dan dikenal memiliki hubungan erat dengan tradisi Buddhisme Mahayana. Salah satu peninggalan terpenting dari lingkungan politik dan keagamaan Sailendra adalah Candi Borobudur, yang pembangunannya berlangsung secara bertahap pada akhir Abad ke-8 hingga Abad ke-9. Perjalanan politik Balaputradewa tidak dapat dilepaskan dari perubahan konstelasi kekuasaan di Jawa pada Abad ke-9. Setelah Pemerintahan Samaratungga, terjadi dinamika politik yang melibatkan lingkungan Sailendra dan kelompok penguasa Mataram yang kemudian dalam historiografi modern sering dikaitkan dengan Wangsa Sanjaya (Hindu Siwa 732 M). Perkawinan berbeda agama antara Pramodhawardhani, putri dari Raja Wangsa Sailendra Samaratungga yang beragama Budha dengan Panukuh pemuda dari Wangsa Sanjaya beragama Hindu menjadi salah satu peristiwa penting dalam proses perubahan konfigurasi politik tersebut. Panukuh kemudian tampil sebagai salah satu penguasa utama Mataram Kuno yang bergelar Rakai Pikatan dan melopori pembuatan Candi Prambanan yang berafiliasi dengan tradisi keagamaan Siwa melalui anaknya Dyah Lokapala yang meresmikan candi tersebut (856 M) berdasarkan catatan Prasasti Siwagrha.

Dalam historiografi, hubungan antara Balaputradewa dan Rakai Pikatan sering ditempatkan dalam konteks konflik politik antara kelompok Sailendra dan penguasa Sanjaya yang mendominasi Mataram Kuno di Jawa. Bahkan, terdapat interpretasi bahwa Balaputradewa mengalami kemunduran politik di Jawa sehingga kemudian memindahkan basis kekuasaannya ke Sumatera dan memperoleh kedudukan sebagai penguasa Sriwijaya. Akan tetapi, interpretasi tersebut perlu ditempatkan secara kritis. Sumber-sumber primer yang tersedia belum memberikan bukti yang cukup kuat untuk menyatakan secara pasti bahwa Balaputradewa dikalahkan dalam suatu perang langsung oleh Rakai Pikatan dan kemudian melarikan diri ke Sriwijaya. Pada masa pemerintahannya, Balaputradewa tampil sebagai salah satu penguasa penting Sriwijaya. Kedudukannya memperlihatkan adanya hubungan politik dan budaya yang erat antara Jawa, Sumatra dan pusat-pusat Buddhisme di Asia Selatan. Sriwijaya pada periode ini berkembang sebagai kekuatan maritim dan pusat pembelajaran Buddhisme yang memiliki jaringan internasional. Oleh karena itu, kebangkitan Balaputradewa di Sriwijaya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pergeseran pusat kekuasaan dan jaringan politik Sailendra di Asia Tenggara, bukan semata-mata sebagai akibat kekalahan militer dalam perebutan takhta di Jawa. Sementara itu, di Jawa, pemerintahan Rakai Pikatan menandai semakin kuatnya tradisi Hindu Siwa dalam lingkungan politik Mataram Kuno (732-1007 M). Perkembangan tersebut kemudian dilanjutkan oleh para penguasa berikutnya hingga terjadi perpindahan pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa bagian Timur pada masa Mpu Sindok abad ke-10. Lahirnya Pujangga besar Mpu Tantular dengan Kitab Sutasoma di era Singhasari-Majapahit yang merujuk akibat konflik sosial, politik dan Agama yang dikenal dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.”

Salah satu tokoh yang sering ditempatkan dalam pembahasan mengenai hubungan Jawa dan Sumatera Adalah Maharaja Diraja Adityawarman (Pagaruyung 1347 M) melalui ayahnya Kebo Anabrang (Singhasari dalam ekspedisi Pamalayu 1275–1293 M). Ia memiliki hubungan genealogis dengan lingkungan Kerajaan di Jawa dan kemudian tampil sebagai penguasa di kawasan Melayu dan diberi jabatan penting dari Majapahit pada era Tribuana Tunggadewi (1328 M) dengan gelar Mantri Wreda Tama (Mentri Senior) kemudian dipercaya menjadi diplomat Majapahit untuk Cina (Dinasty Ming 1371-1377 M). Ia juga dipercaya menjadi panglima perang bersama Gajah Mada untuk menaklukan Bali (1343 M), walaupun mengalami konflik politik dan melepaskan diri dari Majapahit dan memindahkan ibukota Dhamasraya ke pendalaman Batu Sangkar Pagaruyung (1347 M) dengan naiknya tahta Hayam Wuruk menjadi Raja Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara dan Mahapatih Gajah Mada (1350 M). Akibat konflik ini terciptanya asas Politik Luar Negeri Mitreka Satata (1365 M) atau disebut mitra sederajat (status equality) dan Adityawarman mendeklarasikan diri menjadi Maha Raja Diraja di Pagaruyung dengan daerah otonom yang diteruskan oleh anaknya Ananggawarman menciptakan adat Nagari di (Minangkabau) dalam mendukung Politik Luar Majapahit era Hayam Wuruk. Selaku Raja ia memperkuat aliansi Bhatara Sapta Prabu 9 wilayah inti Majapahit (Kahuripan, Daha, Wengker, Singhasari, Lasem, Pajang, Matahun, Paguhan, Wirabhumi dan Pewanuhan) yang mencapai kemakmuran dan kejayaan Majapahit selama 39 tahun (1350–1389 M) di Nusantara.

Dua tokoh Putera Jawa Balaputeradewa dan Adityawarman yang memberikan kontribusi besar di Pulau Sumatera menunjukkan bahwa hubungan Jawa dan Sumatera bukan hanya sekadar hubungan geografis saja, melainkan juga merupakan sejarah panjang perpindahan manusia antara kekuasaan, kebudayaan dan identitas yang membentuk wajah manusia di Nusantara selama berabad-abad.

Fredrik Barth dan Persoalan Batas Etnik

Salah satu teori penting untuk membaca fenomena tersebut adalah teori Fredrik Barth mengenai Ethnic Boundaries. Dalam Ethnic Groups and Boundaries (1969), Barth menggeser perhatian antropologi dari anggapan bahwa kelompok etnik terutama ditentukan oleh sekumpulan ciri kebudayaan menuju perhatian pada bagaimana batas sosial antarkelompok diproduksi dan dipertahankan. Perspektif Barth sangat relevan untuk memahami Pujakesuma. Pertanyaannya bukan sekadar: “Apa saja budaya Jawa?” Melainkan: “Dalam situasi apa seseorang menggunakan identitas Jawa?” Seorang anggota Pujakesuma dapat berada dalam beberapa kategori identitas sekaligus. Ia dapat menjadi Jawa dalam konteks Keluarga, Wangsa atau Puak (Fam), Pujakesuma dalam konteks organisasi, orang Sumatera dalam konteks geografis, dan orang Indonesia dalam konteks kebangsaan. Tidak ada kontradiksi di antara identitas tersebut. Justru identitas-identitas tersebut dapat hidup berdampingan dan berkolaborasi diwilayah masing-masin. Karena itu, etnisitas bukanlah tembok atau sekat yang sepenuhnya tertutup. Ia lebih menyerupai batas sosial yang dapat dinegosiasikan dan mengalami perubahan sepanjang waktu. Dalam konteks Minangkabau laki-laki dari Pagaruyung bisa disebut puak/fam (keluarga) Jawa seperti Ananggawarman, dan dalam konteks Masyarakat Melayu. Perempuan yang dari Dhamasraya bisa disebut puak melayu, istrinya yang bernama Puti Reno Dewi anak pemuka adat darek/jorong (pedalaman) yang kemudian membentuk garis keturunan kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung dan sistem adat Nagari di Minangkabau.

Stuart Hall: Identitas Sebagai Proses “Menjadi Jawa”

Konsep identitas Stuart Hall memberikan kerangka teoritis yang lebih jauh. Identitas tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan selesai. Ia terbentuk melalui sejarah, representasi, pengalaman, dan perubahan. Dengan perspektif ini, pertanyaan “Apakah Pujakesuma masih Jawa?” sebenarnya kurang produktif. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: “Jawa seperti apa yang sedang menjadi Pujakesuma?” Jawabannya tentu tidak tunggal. Jawa yang hidup di Sumatera adalah Jawa yang telah melewati pengalaman migrasi. Ia mengalami kontak dengan kebudayaan lokal, beradaptasi dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, mengalami urbanisasi dan pendidikan modern, serta berhadapan dengan globalisasi dan perkembangan generasi digital. Karena itu, identitas Pujakesuma tidak dapat diperlakukan seperti benda museum yang hanya perlu disimpan dalam bentuk aslinya. Identitas adalah sesuatu yang terus bergerak, beradaptasi, dan mengubah diri sesuai kondisi yang memungkinkan. Antara lain seperti di Fase Masyarakat Jawa yang beragama Hindu-Budha dan sekaligus Islamisme sebagai akar kebudayaan Jawa yang baru akibat adanya Akulturasi (Perpaduan), Hibriditas (Percampuran) dan hubungan yang lebih tidak kentara seperti Asimilasi (Peleburan).

Prinsip dan Filososofi Modal Sosial Masyarakat Jawa

Njawani (Paksi Raras Alit 2025) bukan sekadar menjadi orang Jawa, mengenakan simbol-simbol Jawa seperti blangkon atau mempertahankan tradisi masa lalu seperti slametan. Njawani adalah sebuah proses menjadi manusia Jawa melalui penghayatan terhadap nilai, etika, rasa dan cara memandang kehidupan. Dalam pengertian ini, Jawa bukan hanya identitas genealogis, melainkan cara berada dan cara menjalani kehidupan. Njawani mengajarkan bahwa manusia harus mampu menempatkan dirinya secara selaras: memahami asal-usulnya, menghormati sesamanya, menjaga keseimbangan dengan lingkungan, serta mampu mengendalikan keinginan diri. Karena itu, njawani bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai yang dianggap luhur ke dalam kehidupan yang terus berubah. Tradisi boleh berubah bentuk, bahasa dapat bergeser, kesenian dapat mengalami pembaruan, dan masyarakat dapat berpindah ruang; tetapi rasa, unggah-ungguh, tepa selira, andhap asor, dan kesadaran akan asal-usul tetap menjadi orientasi moral. Dengan demikian, njawani dapat dipahami sebagai proses menghidupkan Jawa dalam diri, bukan sekadar mempertahankan Jawa sebagai peninggalan. Jawa menjadi akar, tetapi manusia tidak harus berhenti pada akar. Ia tumbuh, bercabang, bertemu dengan kebudayaan lain dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan kesadaran tentang dari mana ia berasal.

Dari “Orang Jawa di Sumatera” Menjadi “Jawa-Sumatera”

Di sinilah hipotesis utama tulisan ini dapat diajukan: Pujakesuma bukan hanya mempertahankan identitas Jawa di Sumatera, tetapi secara perlahan menghasilkan bentuk identitas Jawa yang khas Sumatera. Perbedaannya sangat penting Jika kita mengatakan “orang Jawa di Sumatera”, seolah-olah Jawa merupakan identitas yang sudah selesai dan hanya dipindahkan secara geografis dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ketika kita menggunakan istilah “Jawa-Sumatera”, kita mengakui bahwa identitas tersebut telah mengalami proses sejarah dan transformasi kebudayaan. Generasi pertama mungkin membawa Jawa sebagai pengalaman hidup. Generasi kedua menerima Jawa melalui keluarga. Generasi ketiga mungkin mengenal Jawa terutama hanya melalui ritual, bahasa, kesenian, cerita keluarga, makanan, serta organisasi sosial. Dengan demikian, semakin jauh jarak generasi dari tanah leluhur, semakin besar kemungkinan bahwa Jawa berubah dari pengalaman geografis menjadi memori kultural, dan tidak menutup kemungkinan akan ada budaya Jawa yang akan menjadi kebudayaan Sumatera baru dari Bahasa, sosial-ekonomi, maupun struktur lainnya berkaitan irisan puak atau keluarga. Dalam proses tersebut, Pujakesuma menjadi salah satu institusi yang membantu menjaga memori tersebut tetap hidup sekaligus menyesuaikannya dengan lingkungan sosial yang terjadi di Sumatera.

Pujakesuma sebagai Ruang Integrasi

Hal ini penting karena masyarakat Sumatera bukanlah masyarakat yang homogen. Sumatera merupakan ruang perjumpaan berbagai etnis dan kebudayaan. Dalam kondisi demikian, keberadaan organisasi etnik tidak otomatis bertentangan dengan integrasi. Sebaliknya, organisasi etnik dapat menjadi jembatan sosial apabila anggotanya mampu membawa identitas kelompok ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Dengan kata lain, integrasi tidak harus berarti menghapus identitas. Integrasi dapat berarti berbagai identitas hidup bersama dalam satu ruang sosial. Seorang individu dapat mempertahankan identitas Jawa sekaligus menjadi bagian aktif dari masyarakat Sumatera. Bahkan, justru karena ia memiliki identitas yang kuat, ia memiliki sesuatu yang dapat dibawa ke dalam dialog kebudayaan dengan kelompok lain.

Tantangan Pujakesuma: Hilangnya Makna

Tantangan terbesar Pujakesuma ke depan kemungkinan bukan semata-mata hilangnya simbol budaya, melainkan hilangnya makna di balik simbol tersebut. Generasi muda mungkin masih mengenal nama suatu tradisi, tetapi tidak mengetahui sejarahnya. Mereka mungkin masih mengenakan busana Jawa, tetapi tidak memahami nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Mereka mungkin masih hadir dalam pertunjukan budaya, tetapi tidak memahami proses sejarah yang membuat kebudayaan Jawa hadir dan berkembang di Sumatera. Karena itu, Pujakesuma perlu bergerak dari sekadar pelestarian budaya menuju produksi pengetahuan budaya. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton kebudayaan. Mereka perlu menjadi produsen pengetahuan mengenai kebudayaannya sendiri.

Penutup: Jawa sebagai Akar, Sumatera sebagai Ruang Pengalaman

Pujakesuma sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai organisasi masyarakat Jawa di Sumatera. Ia merupakan fenomena sosial yang memperlihatkan bagaimana identitas etnik bekerja dalam masyarakat yang mengalami migrasi, perjumpaan budaya, dan perubahan sosial. Pujakesuma menunjukkan bahwa menjadi Jawa tidak selalu berarti hidup di Jawa. Jawa dapat hidup melalui memori, bahasa, keluarga, ritual, nilai, kesenian, dan jaringan sosial. Namun, ketika semua unsur tersebut berinteraksi dengan pengalaman Sumatera, lahirlah bentuk identitas yang berbeda dari Jawa di tanah asal. Karena itu, konsep “Jawa-Sumatera” menjadi penting. Ia bukan sekadar kategori geografis, melainkan sebuah proses kebudayaan.

Jawa menjadi akar, Sumatera menjadi ruang pengalaman, Pujakesuma menjadi ruang negosiasi keduanya, dan Indonesia menjadi ruang kebersamaan. Dengan demikian, keberhasilan Pujakesuma tidak semestinya diukur hanya dari seberapa banyak tradisi Jawa yang mampu dipertahankan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana warisan budaya Jawa mampu membentuk manusia yang memiliki akar budaya yang kuat, terbuka terhadap kebudayaan lain, serta mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat yang lebih luas. Sebab, kebudayaan yang hidup bukanlah kebudayaan yang tidak mengalami perubahan. Sebaliknya, kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang mampu beradaptasi, bernegosiasi, dan berkembang tanpa kehilangan ingatan tentang asal-usulnya. Dalam konteks inilah Pujakesuma tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya Jawa di Sumatera, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan identitas Jawa, pengalaman Sumatera dan cita-cita kebangsaan Indonesia tumbuh dalam suatu kebersamaan yang dinamis.

Tulisan by @gustijhendra

Exit mobile version