Oleh: Mas_Aji
Abstrak
Migrasi orang Jawa ke Sumatera merupakan fenomena demografis terbesar di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia dengan 40,22% populasi nasional, dan 17,05% dari populasi Jawa tersebut berada di Pulau Sumatera. Di Sumatera, Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera) hadir sebagai organisasi paguyuban yang mewadahi warga keturunan Jawa yang lahir dan tinggal di Sumatera. Organisasi ini berdiri sejak tahun 1980 dan telah menyebar merata di tingkat provinsi, kabupaten hingga desa-desa.
Artikel ini bertujuan menganalisis (1) strategi adaptasi dan pelestarian jati diri “kejawen” dalam arti sistem nilai, tradisi spiritual dan filosofi hidup masyarakat Jawa di Sumatera Selatan (Sumsel), dan (2) model optimalisasi peran keturunan Jawa di Sumsel dalam bidang seni-budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Dengan metode studi literatur dan pendekatan sosiologi-etnisitas, artikel ini menawarkan model “Integrasi Berakar” sebagai kerangka kerja Pujakesuma untuk menjadi jembatan antara ke-Jawa-an dan ke-Sumatera-an.
Kata Kunci: Pujakesuma, Diaspora Jawa, Identitas, Sumatera Selatan, Akulturasi, Transmigrasi
- Pendahuluan
Kehadiran orang Jawa di Sumatera pada masa modern bukan fenomena baru. Ia dimulai sejak program Kolonisasi Belanda (1905), berlanjut melalui program Transmigrasi besar-besaran Orde Baru, hingga migrasi spontan. Sumsel menjadi salah satu tujuan utama. Berdasarkan data BPS, persebaran suku Jawa di luar Jawa terkonsentrasi di Lampung, Jakarta, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Di beberapa kabupaten di Sumsel seperti Banyuasin, Musi Rawas, OKI, dan OKU Timur, populasi Jawa bahkan menjadi mayoritas.
Pertanyaan sosiologis yang muncul: Bagaimana komunitas yang secara demografis besar ini tidak tercerabut dari akarnya, namun juga tidak menjadi kelompok eksklusif yang resisten terhadap budaya lokal Melayu-Sumsel? Di sinilah peran Pujakesuma menjadi sentral.
Pujakesuma secara formal bukan sekadar paguyuban kedaerahan, melainkan identitas hibrida: Putera Jawa Kelahiran Sumatera. Frasa ini menegaskan dua loyalitas – darah Jawa, tanah lahir atau tempat hidup di Sumatera.
- Tinjauan Pustaka: Identitas di Tanah Rantau
Teori akulturasi J.W. Berry menjelaskan 4 strategi: asimilasi, separasi, marginalisasi, dan integrasi. Masyarakat Jawa di Sumsel cenderung memilih strategi integrasi: mempertahankan warisan budaya asal sambil secara aktif mengadopsi dan menghormati budaya lokal.
Jati diri Jawa tidak hanya didefinisikan oleh tempat lahir, tetapi oleh sistem nilai (value system):
– Keislaman yang sinkretis dan toleran
– Gotong-royong, tepo seliro, dan andhap asor
– Bahasa dan unggah-ungguh
- Pembahasan
3.1. Bagaimana Orang Jawa di Sumsel Bersikap Tanpa Kehilangan Jati Diri?
Berdasarkan observasi sosial-budaya, ada 5 mekanisme adaptif yang dilakukan:
- Model Bahasa Ganda (Bilingual Cultural Code)
Di rumah dan acara Pujakesuma, bahasa Jawa (ngoko-krama) tetap digunakan, terutama dalam pitutur dan tembang. Di ruang publik, mereka fasih berbahasa Melayu Palembang dan Indonesia. Mereka tidak memaksakan Jawa, tapi juga tidak malu ber-Jawa. Bilamana perlu Pujakesuma mengadakan kursus singkat Pawiyatan Bahasa Jowo untuk keturunan Jawa yang masuk pada generasi milenial maupun “gen z” yang sudah tidak bisa berbahasa Jawa.
- Ritual yang Di-Kontekstualisasi
Tradisi slametan, mitoni, tedhak siten tetap dijalankan, tetapi menunya berakulturasi. Tumpeng disandingkan dengan pindang patin. Gamelan mengiringi tari Gending Sriwijaya. Ini bukan peleburan yang menghilangkan, melainkan “enrichment” (pengayaan), yaitu proses membuat sesuatu menjadi lebih baik, bermakna, bernilai, berkualitas dengan menambah suatu unsur baru.
- Prinsip Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung
Warga Jawa di Sumsel harus menghormati dan mengikuti adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku di tempat tinggalnya. Perpegang teguh pada sikap “andhap asor”. Turut aktif dalam struktur sosial lokal: menjadi ketua RT, takmir masjid, dan ikut dalam gotong-royong dusun. Tidak menyendiri menjadi kelompok yang menutup diri dari yang lain.
- Kelembagaan Keluarga Besar
Pujakesuma berfungsi sebagai kepanjangan keluarga. Ketika ada anggota yang hajatan atau kematian, sistem sambatan (rewang) Jawa yang mirip dengan tradisi Sumsel dijalankan secara kolektif. Ini memperkuat solidaritas internal tanpa menutup diri.
3.2. Optimalisasi Peran: Model PENTA-HELIX Pujakesuma Sumsel
Agar tidak hanya menjadi organisasi seremonial, Pujakesuma Sumsel perlu bergerak dari paguyuban budaya menjadi kekuatan sosial-strategis.
- Bidang Seni Budaya: Dari Pelestari menjadi Produsen Budaya
Inventarisasi dan Digitalisasi: Mendata kesenian Jawa yang hidup di Sumsel (Wayang (wayang kulit, wayang wong), Kuda Lumping Banyuasin, Jaran Kepang, Campursari, dan sebagainya). Membuat website, kanal YouTube Pujakesuma Sumsel dan medsos lainnya.
Festival Akulturasi: Gagas “Festival Jowo-Melayu” tahunan di Palembang, menampilkan kolaborasi wayang dengan syair Gurindam, atau batik Lasem dengan songket Palembang. Ini menjadikan Pujakesuma agen Bhinneka Tunggal Ika.
Sanggar Generasi Z: Bukan lagi sanggar tradisional saja, tapi sanggar konten. Anak muda Pujakesuma membuat konten TikTok edukasi unggah-ungguh Jawa dengan logat Palembang misalnya.
2. Bidang Sosial: Modal Sosial Menjadi Modal Kesejahteraan
Koperasi Pujakesuma Sejahtera: Kekuatan terbesar orang Jawa di Sumsel adalah jumlah dan jaringan. Koperasi simpan pinjam dan koperasi tani (pupuk, bibit) berbasis anggota akan sangat kuat bila direvitalisasi.
Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Buruh Tani: Banyak warga Jawa di Sumsel adalah petani dan pekerja perkebunan. Pujakesuma harus hadir sebagai advokat agrarian.
Gerakan literasi, kursus, pelatihan dan beasiswa: Memberikan beasiswa “Anak Transmigran Berprestasi”, kursus dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM Wong Jowo agar dapat bersaing di pasar tenaga kerja untuk memutus rantai kemiskinan struktural.
3. Bidang Ekonomi: Dari Pekerja Menjadi Pemilik
Etos kerja Jawa alon-alon waton kelakon, gemi, nastiti adalah modal ekonomi. Strateginya:
Branding UMKM Jawa-Sumsel: Pempek dengan isian ayam ungkep Jawa, Keripik dari singkong OKI Timur, Batik Jumputan Palembang motif parang. Pujakesuma sebagai kurator dan agregator UMKM untuk masuk ke e-commerce.
Jaringan Tani Modern: Mengoptimalkan lahan transmigrasi yang sudah bersertifikat menjadi pertanian korporasi. Pujakesuma menjadi koperasi produsen, bukan sekadar kumpulan petani individual.
4. Bidang Politik: Politik Kebangsaan, Bukan Politik Etnis
Ini bidang paling sensitif. Pujakesuma harus menghindari politik identitas sempit.
Pendidikan Politik: Jangan menjadi lumbung suara yang hanya didekati saat pemilu. Pujakesuma harus melatih kader politik yang memahami politik Sumsel, bukan sekadar mengandalkan jumlah.
Strategi Wong Njowo Njung Wong Melayu: Mendorong kader Pujakesuma untuk maju di legislatif/eksekutif dengan narasi sebagai putera daerah Sumsel yang berdarah Jawa. Menjalin koalisi dengan tokoh adat Melayu, bukan berkompetisi.
Think-Tank Kebijakan: Pujakesuma Sumsel membuat naskah akademik tentang isu transmigrasi, konflik lahan, dan pemerataan pembangunan di Sumsel untuk diserahkan kepada Pemprov.
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Pujakesuma bukanlah organisasi nostalgia. Ia adalah laboratorium hidup integrasi nasional. Di Sumsel, orang Jawa telah membuktikan bisa menjadi Jawa yang kaffah dan Wong Sumsel yang sejati secara bersamaan.
Rekomendasi untuk DPD Pujakesuma Sumsel di Palembang:
Restrukturisasi Organisasi: Bentuk 4 sayap: Sayap Budaya, Sayap Koperasi Ekonomi, Sayap Advokasi Sosial, dan Sayap Kaderisasi Politik.
Pendataan Ulang Anggota: Buat database digital anggota berbasis NIK dan profesi untuk memetakan potensi ekonomi-politik.
Sekretariat sebagai Pusat Budaya: Jangan hanya sekretariat administratif, jadikan rumah singgah budaya dengan perpustakaan naskah Jawa dan Melayu.
Pada akhirnya, jati diri Jawa di Sumsel tidak akan hilang karena bahasa atau blangkon. Ia akan hilang jika nilai-nilai luhurnya – gotong-royong, kerja keras, dan tepo seliro – tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan zaman. Tugas Pujakesuma adalah memastikan nilai itu tetap relevan.
—
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Sensus Penduduk 2010 – Etnisitas.
Berry, J.W. (2005). Acculturation: Living successfully in two cultures.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis. (2024). Profil Paguyuban Pujakesuma Berdiri Sejak 1980.
Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa.



