EKOTEOLOGI: DARI KESALEHAN RITUAL MENUJU KESALEHAN EKOLOGIS
Latar Belakang
Indonesia adalah negara paling religius sekaligus salah satu negara dengan laju kerusakan ekologis tercepat. Kita rajin ke masjid, gereja, pura, dan vihara, tapi juga membuang sampah ke sungai. Paradoks ini menunjukkan ada jurang antara kesalehan ritual dan kesalehan ekologis.
Krisis di Sumatera Selatan adalah cerminnya: setiap tahun Palembang dilanda banjir karena drainase tersumbat dan daerah resapan hilang, kabut asap karhutla dari OKI dan Musi Banyuasin membuat sekolah libur, Sungai Musi tercemar mikroplastik, dan lubang tambang batubara di Muara Enim dibiarkan menganga.
Ekoteologi hadir untuk menjembatani jurang itu.
1. Pengertian Ekoteologi: Landasan Teologis dan Filosofis
Secara akademik, ekoteologi didefinisikan oleh Seyyed Hossein Nasr dan Lynn White Jr. sebagai kritik dan rekonstruksi teologi untuk menjawab krisis lingkungan.
Definisi operasional: Ekoteologi adalah paradigma keberagamaan yang menempatkan kelestarian alam sebagai bagian integral dari iman, ibadah, dan akhlak.
Prinsip-prinsip intinya:
a. Tauhid Ekologis: Alam semesta adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan (ayat kauniyah). Merusak alam berarti menghapus ayat Tuhan. QS. Ar-Rum: 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” adalah landasan paling eksplisit.
b. Kosmologi Relasional: Dalam tradisi Kristen, istilah Laudato Si’ dari Paus Fransiskus menyebut bumi sebagai “Saudari, Ibu Bumi yang menopang kita”. Dalam Hindu, Vasudhaiva Kutumbakam – seluruh dunia adalah satu keluarga.
c. Etika Penitipan (Stewardship): Manusia adalah khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah bukan pemilik, tapi mandataris yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam tradisi adat Sumsel, ini mirip dengan konsep “rimbo larangan” – hutan yang tidak boleh ditebang karena dijaga roh leluhur.
Jadi, ekoteologi menolak tafsir bahwa “tundukkanlah bumi” (Kejadian 1:28) berarti eksploitasi bebas.
2. Cara Pandang Ekoteologi Terhadap Lingkungan
Ekoteologi menawarkan revolusi cara pandang:
1. Dari Antroposentris ke Ekosentris-Teosentris
Cara pandang lama: Manusia pusat, alam alat. Cara pandang ekoteologi: Tuhan pusat, manusia dan alam sama-sama ciptaan yang saling terhubung dalam jaring kehidupan. Kita tidak hidup DI ATAS bumi, tapi BERSAMA bumi.
2. Dari Mekanistik ke Organik
Alam bukan mesin mati yang bisa dibongkar pasang. Alam adalah organisme hidup. Sungai Musi bukan sekadar saluran air, ia adalah sistem hidup yang bernapas. Ketika kita mencemari Musi, kita sedang menyakiti tubuh kita sendiri.
3. Dari Ekonomi Ekstraktif ke Ekonomi Keberkahan
Pembangunan modern mengukur sukses dari seberapa banyak yang diambil. Ekoteologi mengukur sukses dari seberapa banyak yang bisa dipulihkan. Prinsipnya adalah cukup, sederhana, dan berkelanjutan. Ini kritik langsung terhadap budaya konsumtif.
4. Dari Kesalehan Individual ke Kesalehan Sosial-Ekologis
Dosa tidak hanya personal (tidak shalat, berbohong), tapi juga struktural dan ekologis. Membiarkan korporasi membuang limbah dan kita diam, adalah bagian dari dosa ekologis.
3. Problem Pembangunan dan Kerusakan Ekosistem di Indonesia
Ekoteologi menyebut pembangunan yang ada saat ini mengalami “kegagalan moral”:
a. Deforestasi dan Krisis Gambut
Sumsel kehilangan lebih dari 30% tutupan hutan alam dalam 20 tahun terakhir untuk sawit, HTI akasia, dan tambang. Gambut yang dikeringkan menjadi bom waktu karhutla. Asapnya bukan hanya polusi, tapi juga pelanggaran hak anak untuk menghirup udara bersih.
b. Kapitalisasi Air dan Sungai
Alih fungsi rawa dan lebak untuk perumahan di Palembang (Kertapati, Plaju, Jakabaring) membuat air tidak punya tempat parkir. Akibatnya banjir. Di sisi lain, intrusi air asin dan kekeringan saat kemarau merusak pertanian.
c. Ekonomi Sampah yang Tidak Adil
Palembang menghasilkan sekitar 1.000 ton sampah per hari. Kurang dari 20% yang terkelola. Paradigma kumpul-angkut-buang ke TPA Sukawinatan sudah gagal. Sampah adalah cermin gaya hidup yang tidak zuhud.
d. Ketimpangan Ekologis
Ini yang paling penting. Yang menikmati keuntungan tambang dan sawit adalah korporasi di Jakarta dan luar negeri, yang menanggung banjir, asap, dan gagal panen adalah petani di desa. Ini yang disebut ketidakadilan lingkungan (environmental injustice).
4. Implementasi Ekoteologi: Dari Wacana ke Gerakan
Implementasi harus menyentuh tiga ranah:
A. Ibadah Hijau (Green Ritual):
Khotbah Jumat dan kotbah Minggu tematik lingkungan setiap bulan pertama.
Gerakan hemat air wudhu: 1 orang wudhu bisa habiskan 5 liter air. Dengan keran wudhu hemat bisa dipangkas 50%. Air bekas wudhu ditampung untuk siram tanaman masjid.
Ritual tanam: setiap akad nikah, aqiqah, dan baptis wajib menanam 2 pohon sebagai “pohon cinta”.
B. Fiqih dan Etika Lingkungan:
Menghidupkan kembali fatwa: Fatwa MUI No. 04/2014 tentang Pelestarian Satwa, Fatwa MUI No. 41/2014 tentang Karhutla, dan Ensiklik Laudato Si’.
Membuat Audit Ekologis Rumah Ibadah: berapa sampah, berapa listrik, berapa air yang digunakan.
C. Aksi Komunitas:
Lubuk Larangan Ekoteologi di Sungai Musi: kesepakatan tokoh adat, imam, dan kades untuk melarang menangkap ikan dengan racun dan listrik di satu segmen sungai untuk pemulihan ekosistem.
5. Peran Strategis Imam, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat
Mereka adalah “influencer moral” yang legitimasi nya melebihi pejabat.
Peran Imam / Ustadz / Pendeta / Pandita:
Sebagai Nabi Ekologis (Moral Prophet): Berani mengatakan bahwa membakar hutan, membuang limbah ke sungai, dan menimbun rawa adalah kemungkaran yang harus dicegah (nahi munkar ekologi).
Sebagai Konselor Bencana: Saat banjir dan karhutla, tokoh agama yang pertama dicari warga. Mereka harus punya literasi kebencanaan dan trauma healing berbasis ekoteologi.
Sebagai Manajer Aset Umat: Masjid punya tanah, punya kas, punya jamaah. Ini modal sosial besar untuk kebun wakaf produktif, bank sampah masjid, dan koperasi energi bersih.
Peran Tokoh Masyarakat / Adat / Ketua RT-RW:
Penjaga Pengetahuan Lokal: Menghidupkan “Pantangan Tebang” – di banyak dusun di Lahat dan Pagaralam, ada pohon sialang yang tidak boleh ditebang karena tempat lebah. Ini adalah konservasi tradisional.
Penjaga Legitimasi Sosial: Jika program pemerintah tidak direstui tetua adat, pasti gagal. Jika direstui, warga akan gotong royong.
Pelopor Pengawasan Warga (Citizen Monitoring): Melatih pemuda karang taruna untuk lapor titik api dan pencemaran sungai via WhatsApp Group yang terhubung langsung ke DLH dan aparat.
Sinergi idealnya: Imam bicara halal-haram lingkungan, Tokoh Adat bicara pantangan dan berkah, Tokoh Masyarakat bicara aturan main dan sanksi sosial.
6. Program Spesifik Pemerintah Bersama Korporasi dan Masyarakat (Model Pentahelix Sumsel)
Ini rancangan yang bisa langsung diajukan ke Pemprov Sumsel, Pemkot Palembang, dan CSR perusahaan:
| Nama Program | Leading Sector | Peran Korporasi | Peran Masyarakat & Tokoh Agama | Indikator Keberhasilan |
1. Nama Program : GERAKAN MASJID RAMAH LINGKUNGAN (100 Masjid Hijau)
- Leading Sector : Kemenag, DLH Kota, FKUB
- Peran Korporasi : PTBA, PLN, Pusri: dana panel surya atap, keran wudhu hemat, biopori
- Peran Masyarakat & Toko Agama : Imam kelola bank sampah, remaja masjid jadi kader lingkung
- Indikator Keberhasilan : 100 masjid kurangi sampah 50% dan listrik 20% dalam 1 tahun
2. Nama Progam : MUSI LESTARI (Satu Kelurahan Satu Bank Sampah Syariah)
- Leading Sector : DLH, BSI, Bank Sampah Induk
- Peran Korporasi : Alfamart/Indomaret & mall: jadi drop point sampah terpilah, CSR timbangan & gerobak
- Peran Masyarakat & Toko Agama : Ibu-ibu majelis taklim jadi nasabah, nilai tabungan sampah jadi beasiswa
- Indikator Keberhasilan : Pengurangan sampah ke TPA 30%, 50 kelurahan aktif
3. Nama Program : PESANTREN & GEREJA TANI (Perhutanan Sosial 2.0)
- Leading Sector : Dinas Kehutanan, BRGM
- Peran Korporasi : Sinar Mas, Wilmar, Musi Hutan Persada: wajib bimbing & off-taker hasil agroforestri petani binaan
- Peran Masyarakat & Toko Agama : Pesantren dan gereja kelola 5 ha lahan per kelompok dengan kopi, jelutung, aren
- Indikator Keberhasilan : 1.000 ha lahan kritis pulih, petani dapat penghasilan tambahan Rp 2-3 juta/bulan
4. Nama Program : BRIGADE JAGA GAMBUT (Relawan Agama Anti Api)
- Leading Sector : BPBD, Manggala Agni, KPH
- Peran Korporasi : Korporasi HTI: sediakan sekat kanal, embung, drone pantau api
- Peran Masyarakat & Toko Agama : Santri, Pemuda Gereja, Karang Taruna dilatih jadi pemadam pertama
- Indikator Keberhasilan : 0 titik api di 5 kecamatan rawan, waktu tanggap < 2 jam
5. Nama Program : ZAKAT, INFAK, KOLEKTE UNTUK BUMI (Zakat Hijau)
- Leading Sector : BAZNAS, Pemprov, FKUB
- Peran Korporasi : Korporasi salurkan dana carbon offset via BAZNAS dengan audit publik
- Peran Masyarakat & Toko Agama : Kades & Imam tentukan lokasi tanam, warga gotong royong tanam & rawat
- Indikator Keberhasilan : 100.000 pohon endemik Sumsel tertanam, dana zakat hijau Rp 1 M/tahun
Mekanisme Pendanaan :
Gunakan skema Blended Finance: 40% APBD (Dana Kelurahan Hijau), 40% CSR / TJSL korporasi yang diwajibkan, 20% dana umat (zakat, kolekte, dana desa). Semua dikelola dalam satu dashboard transparan yang bisa dipantau publik.
Penutup
Ekoteologi bukan sekadar menambahkan ayat tentang pohon dalam khotbah. Ia adalah tobat ekologis kolektif.
Bagi Palembang, ini sangat relevan. Kita tidak bisa mengaku cinta Songket Palembang jika Sungai Musi tempat mencuci benang songket itu mati. Kita tidak bisa bicara keberkahan jika asap karhutla membuat jamaah batuk saat shalat.
Tugas imam, tokoh agama, dan tokoh masyarakat hari ini bukan hanya menjaga akhlak umat kepada Tuhan dan sesama manusia, tapi juga menjaga akhlak umat kepada tanah, air, dan udara.
Oleh: Mas_Adji



