PUJAKESUMA SUMSEL

Paguyuban IKKPP

Paguyuban IKKPP

Pujakesuma Sumsel dan KPD Tabur Ziarah di Makam Para Raja dan Sultan Palembang

Palembang (30/10/2021): Tim yang terdiri dari Paguyuban Keluarga Besar Putera Jawa Keturunan Sumatera (Pujakesuma) Sumsel berkerjasama dengan dengan Kesultanan Palembang Darussalam melakukan kunjungan ziarah dan diskusi di makam para Raja dan Sultan Palembang. Untuk tahap pertama, kunjungan ke makam Ario Damar atau Aryo Dillah yang berada di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I Palembang (30/10). Menurut Hernoe Roesprijadji selakuKetua Harian Pujakesuma, dipilihnya makam Aryo Dillah sebagai kunjungan pertama karena tokoh ini adalah yang legendaris, tidak hanya di Palembang, tapi juga di nusantara. “Menurut catatan sejarah, pada tahun 1445 Aryo Damar mendapat tugas dari Brawijaya V menjadi Adipati di negeri Palembang. Ketika itu dia mengawini Sendang Biduk, puteri Sultan Mughni (keturunan Demang Lebar Daun) yang beragama Islam dan nama Aryo Damar berubah menjadi Aryo Abdillah, disingkat menjadi Aryo Dillah,” kata pria yang juga Sekteratris PWNU Sumsel ini. Selain itu, kata Hernoe, dia pribadi mendapat amanah dari gurunya untuk merawat makam Aryo Dillah.“Sudah cukup lama saya mendapat amanah dari guru saya agar merawat makam Aryo Dillah ini. Oleh karena itu, saya sampaikan kepada Vebri Al Lintani (Ketua Panitia, red) agar melakukan kegiatan ini. Alhamdulillah niat saya ini direspon baik oleh SMB IV Jayo Wikramo Fauwaz Diraja” kata Hernoe dalam paparannya. Niat baik Hernoe ini disambut baik oleh para tokoh yang hadir dalam diskusi, terutama oleh SMB IV.“Kami berterimakasih kepada mas Hernoe yang telah menunjukkan perhatiannya. Menghargai para tokoh pendahulu seperti Ario Damar ini adalah tugas kita semua. Salah satu wujud dari penghargaan kepada para tokoh adalah dengan merawat makam yang merupakan bukti keberadaan mereka. Untuk itu, ke depan saya mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam merawat makam para Raja dan Sultan Palembang”, ujar SMB IV. Kondisi Makam Ariyo Damar Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia Vebri Al LIntani, bahwa kondisimakam para Raja dan Sultan di Palembang sangat memrihatinkan. “Satu contoh adalah makam Aryo Dillah yang kita kunjungi ini. Lihatlah makam yang dengan tanpa pagar ini, berada di pelintasan lorong Buyut dan digunakan tempat parkir oleh penduduk, padahal lapangan ini, menurut kuncen telah dibeli dan dihibahkan kepada Pemkot Palembang”. Hal ini dibenarkan oleh Ibu Nyimas Halimah, Kuncen makam Aryo Dillah. “Saya lahir di tempat ini dan meneruskan pekerjaan ayah saya sebagai kuncen. Dulu tempat ini begitu dikeramatkan dan tidak ada penduduk yang berani berbuat macam-macam di makam buyut Aryo Dillah ini. Posisi makam ini dahulu berada di belakang rumah kami yang sekarang menjadi lapangan, tempat kita melakukan kegiatan sekarang ini. Lalu pada masa Kapolda Sumsel Putra Astaman, rumah dibeli dan dibongkar” kata Halimah yang juga selaku ketua RT di sini. Ibu Halimah mengatakan Makam Ario Dilla ini banyak banyak dilkunjungi, dan dia berharap agar ada pemugaran. Paling tidak ada pagar, kata bu Halimah. Ikhwal pembelian tanah, menurut Budayawan Mang Amin dan Sejawaran Kemas AR Panji, mereka hadir ketika penyerahan tanah ke Pemkot yang ketika itu, masa kepemimpinan Walikota Edi Santana. “Sebaiknya ditelusuri lagi arsip surat tanah makam Ario Dilla yang diserahkan di Pemkot. Bagian apa yang menyimpan. Ini penting untuk kepentingan revitalisasi Makam Aryo Dillah”.Dalam kesempatan itu Mang Amin juga menyampaikan terima kasih kepada Hernoe Roesprijadji yang sudah pedul Kontroversi Dua Makam Sejarawan Kemas AR Panji menyoal kontroversi dua makam yang dengan nama yang didentik, di bawah ini namanya “Ario Damar”, yang di atas ada lagi makam yang ditulis dengan nama “Ario Dilla”. “Kita harus menetapkan lagi mana makam Aryo Dillah yang benar, yang di sini atau yang di atas. Sepengetahuan banyak pihak termasuk yang disampaikan oleh kuncen bu Halimah, makam inilah yang benar. Sedangkan yang di atas adalah panglimanya. Selain itu, di makam ini perlu dilengkapai dengan narasi sejarah agar pengunjung tahu sejarahnya. Diskusi yang juga dihadiri oleh Staf Khusus Kebudayaan Gubernur Sumsel Abdul Azis Kemis, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Ketua Forum Palembang Bangkit, Forum Wisata dan Budaya (Forwida), Adosiasi Guru Sejarah, Forum Kerukunan Mahasiswa Sumsel, sejumlah aktivis kebudayaan Saudi Berlian, Benny Mulyadi, Benni Iskandar dan seluruh pembakti Kesultanan Palembang Darussalam ini berlangsung meriah. Satu rekomendasi penting dari kegiatan ini adalah usulan dibentuknya Tim Revitalisasi Makam Aryo Dillah agar dapat merumuskan solusi, baik dari sisi sejarah mapun dari sisi tata kelola makam. (atmago.com)

Paguyuban IKKPP

Gubernur Sumsel Dialog Kebangsaan Bareng Sri Sultan HB X dan Mahfudz MD

Palembang (20/03/19): Gubernur Sumsel H.Herman Deru didaulat menjadi salah satu pembicara utama dalam acara Sarasehan dan Dialog Kebangsaan Merajut Kebhinnekaan Mewujudkan Kebersamaan dan Kesejahteraan di Hotel Swarna Dwipa, Rabu (20/03) sore. Dalam dialog yang diselenggarakan oleh DPW Pujakesuma Sumatera Selatan tersebut, mantan Bupati OKU Timur itu didampingi dua tokoh hebat nasional yakni Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Moh Mahfud MD SH.SU, ”Di Sumsel ini tidak ada pembedaan kesempatan untuk menjadi pejabat. Begitupun soal suku kita semua tidak ada masalah walaupun banyak jumlahnya. Buktinya banyak sekali orang Jawa yang ada di Sumsel ini Alhamdulillah semua betah menetap disini. Orang Jawa di sini semua “Happy” makanya jarang ada yang mau pulang ke Jawa lagi,” ucapnya disambut tepuk tangan tamu undangan yang hadir. Menurut Herman Deru, keberadaan warga Jawa di Sumsel sudah tak asing lagi terutama sejak program Transmigrasi dicanangkan pemerintah pusat pada masa pemerintahan Presiden Suharto. Dimana salah satu daerah sasaran program tersebut yakni Belitang, OKU Timur tempatnya menjadi Bupati selama dua periode. ”Jadi bagi kami kebersamaan ini sudah biasa sekali. Warga asli Komering dan Jawa sangat berbaur malah. Saya contohnya sampai bisa bahasa Jawa,” ujar HD. Atas kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Sumsel, Herman Deru pun tak lupa mengucapkan rasa terima kasih. Maklum dengan kesibukannya yang tinggi, tentulah sangat sulit bagi Sri Sultan membagi waktunya untuk bisa menyapa masyarakat Sumsel dan khususnya warga Jawa yang tinggal di Sumsel. Sementara itu Sri Sultan HB X dalam sambutannya mengatakan bahwa Kebhinnekaan di Indonesia sudah ada jauh sebelum Bangsa Indonesia merdeka. Hal itu dibuktikan dengan adanya Sumpah Pemuda yang menyatukan semua pemuda di seluruh nusantara. “Bangsa ini sudah berani menentang penjajah dengan mendeklarasikan Bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa ini merdeka,” ujarnya. Bahkan lanjutnya para founding father menurutnya sudah membangun peradaban Republik Indonesia ini dengan identitas masing-masing daerah. Seperti tradisi, dlfilosofi, makanan lokal, pakaian lokal dan bahasa lokal. “Makanya setiap dialog dengan mahasiswa di kampus di Yogya saya selalu mengingatkan agar mereka menjaga keetnikan saudara-saudara,” tambahnya. Perbedaan yang ada di Indonesia ini lanjut Gubernur DIY itu juga sangat diakui oleh founding father melalui Bhinneka Tungga Ika. Atas dasar itula Bhinneka Tunggal Ika jangan hanya dijadikan sebagai simbol negara semata melainkan sebagai strategi integrasi bangsa. “Indonesia dengan Kebhinnekaan itu dasarnya adalah persatuan bukan kesatuan jadi tidak ada minoritas dan mayoritas,” imbuhnya. Di tempat yang sama, pembicara utama lainnya mantan Ketua MK Prof Moh. Mahfud MD membeberkan bahwa dengan Kebhinnekaan Tunggal Ika di awal negara Indonesia terbentuk tentu menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana mengatur dan mengelola negara ini dengan sebaik-baik “Dengan suku yang banyak lalu timbul pertanyaan bagaimana mengaturnya? Sempat ada perdebatan apakah Indonesia mau dijadikan Kerajaan atau Republik. Akhirnya disepakatilah dibentuk negara demokrasi,” ujarnya. Adapun negara demokrasi itu merupakan negara yang dikelola dengan Pemilu. ” Makanya mari kita jaga bangsa dan negara Indonesia dengan Pemilu yang benar dan jujur,” jelasnya Mahfud menjelaskan bahwa Pemilu bertujuan memilih pemimpin  di legislatif dan eksekutif. Yakni mereka yang membuat peraturan dan yang melaksananya. Untuk itu ia mengajak masyarakat mengikuti Pemilu agar lahir pemerintah dan pemimpin yang kuat. “Bukan untuk perpecahan. Karena memilih atau tidak memilih pemimpin itu harus lahir. silahkan saja berbeda tidak masalah untuk mencari yang bagus tapi jangan bertengkar. Karena ini untuk tujuan jangka panjang,” paparnya. Dalam kegiatan yang digelar atas kerjasama Pemprov Sumsel, DPW Pujakesuma Sumsel, Pujasuma, dan Gerakan Suluh Kebangsaan itu tampak hadir juga Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan , Ketua DPP Pujakesuma Joko Susilo dan masyarakat Pujakesuma lainnya.  

Scroll to Top