PUJAKESUMA SUMSEL

OPINI KE EMPAT

”Boro-boro mikirin cicilan rumah, lihat saldo ATM setelah bayar paylater aja udah butuh napas buatan”. Tak sedikit warganet yang merasa unggahan di salah satu akun media sosial itu fakta menohok yang nyata menimpa mereka. Namun, dari cara penyampaiannya yang ringan dan apa adanya, kelakar itu justru membuat ”auto ngakak”.

Digerakkan rasa senasib sepenanggungan, jari mengklik tanda ”like”, ”repost”, meneruskan di grup-grup percakapan. Tak lupa ikut berkomentar ”Aku seperti di slide terakhir, di kantor kalau ga serbaguna, ya, serba salah…ha-ha-haa”.

Di kota-kota besar saat ini, mengunggah penderitaan hidup sehari-hari yang dibungkus dengan komedi telah berubah dari sekadar keisengan menjadi rutinitas harian yang nyaris wajib. Kita mengeluh, tetapi bisa membelokkannya dengan mulus menjadi komedi gelap menggelitik. ”Enggak apa-apa asam lambung naik, punggung encok demi cuan, yang penting tetap enggak bisa beli rumah. Yeayyy”. Yang membacanya terasa terpacu untuk tepuk tangan, diakhiri tepuk jidat sembari disergap sedih walau tetap terpingkal-pingkal.

Menertawakan diri sendiri dan membuat lelucon atas kemalangan yang dialami memang telah lama disebut sebagai bagian dari mekanisme koping. Bagi kaum urban kelas menengah, cara ini merilis stres. Terlebih ketika unggahan direspons banyak orang yang menunjukkan, ia tidak sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top